Minggu, 03 Juni 2012
SPK PH Terima Bibit Unggul Dari BSKP
Jumat, 01 Juni 2012
Persiapan SPKPH ke Bridgestone
Rabu, 30 November 2011
Bau Tidak Sedap Ini Mata Pencaharian Kami
Pertama kali menjejakkan kaki di pemukiman Sei Gohong (Sei = sungai), kami mencium bau tidak sedap. Kami pikir, Sei Gohong digunakan sebagai lokasi MCK warga. Kami terkejut dengan apa yang kami lihat saat sampai di pelabuhan Sei Gohong. Tampak kesibukan di tepi Sei Gohong. Puluhan warga mengangkat benda berbentuk balok dari sungai dan meletakkannya ke dalam truk. Ada ratusan balok yang kami lihat. Belakangan kami ketahui benda berbentuk balok itu adalah karet alam. Balok itulah yang bertanggung jawab untuk bau tidak sedap yang tadi kami cium.
Warga Sei Gohong kebanyakan bekerja sebagai pengangkut karet. Mereka pergi ke Tumbang Malahoi, tempat karet disadap, dan merakit balok-balok karet itu menjadi semacam rakit. Rakit kemudian dihanyutkan sampai ke Sei Gohong, baru diangkut ke dalam truk. Perjalanan di sungai berlangsung selama 3 hari jika sedang musim hujan. Jika kemarau, mereka bisa seminggu berada di atas rakit. Kami melihat ada tenda yang dibuat di atas rakit.
Pria dan wanita sama-sama ikut mengangkut karet. Menarik melihat para wanita mengangkut karet dengan menggunakan masker putih yang sama seperti yang kami lihat di Teluk Tamiang. Ada juga wanita yang bekerja menimbang karet. Hal menarik lain adalah ketika mereka membasuh diri bersama di sungai setelah semua karet naik ke atas truk.
Saat kami menanyakan harga karet, tidak ada warga yang menjawab. Entah tidak mau menjawab, atau benar-benar tidak tahu. Tapi kami melihat ada beberapa mobil mewah terparkir di pinggir Sei Gohong. Mobil milik pemilik perkebunan karet, kata mereka. Kami hanya berdoa, semoga warga Sei Gohong juga mendapat imbalan yang layak atas kerja keras serta hasil kekayaan alam tempat tinggal mereka.
Keterangan foto: Petani sedang menimbang karet (slab tebal)
Sumber: http://aci.detik.travelMinggu, 13 November 2011
Karet Masih Primadona
Muara Teweh. Sampai dengan bulan Nopember ini, tenyata sangat menguntungkan bagi pemilik kebun karet yang menjadi salah satu sandaran hidup para petani karet di kabupaten Barito Utara (BATARA). Pasalnya, saat ini harga produksi hasil perkebunan tersebut terus membaik bahkan bisa dikatakan harga masih bertahan. Harga jual karet di kabupaten Barito Utara kini dihargai kisaran harga Rp12.000- Rp15.000 per kilo padahal sebelumnya sempat di bawah harga sebelumnya, menyusul semakin tambah membaiknya harga di pasaran, para petanipun berlomba-lomba menjualnya.
Usuf (45) warga Muara Teweh mengatakan, harga jual karet per kilogramnya sejak beberapa bulan terakhir ini masih bertahan dalam seminggu, para petani sudah pasti dapat menjual hasil sadapan kepada para pengumpul atau pembeli yang datang.
“Diharapkan, harga jual karet ini tidak hanya bersifat sementara namun kalau bisa trus membaik. Karena, dengan anjloknya harga jual karet dipastikan para petani karet akan menjerit,” harapnya , Sabtu (12/11) kemarin.
Senada itu, Udin (35) petani di desa Malawaken, mengaku sangat gembira dengan semakin membaiknya harga karet belakangan ini. Bahkan kata dia harga bervariasi sesuai kualitas karet.
Menurutnya, para pemilik kebun karet yang sudah produksi, sedang mendapat rejeki yang lebih, sebab harga karet semakin membaik dalam beberapa bulan terakhir. Perubahan harga ini tentunya membawa dampak bagi kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera,” kata Udin.
Keterangan gambar: wilayah kabupaten Barito Utara, Kalteng
Sumber: Kalteng Pos; Minggu, 13 Nopember 2011; Halaman 20.
Sumber foto: http://upload.wikimedia.orgMinggu, 18 September 2011
Pelatihan Pembibitan SPKPH
Pelatihan berlangsung selama 3 hari dari tanggal 12-14 Mei 2011. Dari 3 hari pelatihan dibagi menjadi 1,5 hari teori, 1 hari praktek dan ½ hari evaluasi praktek lapangan serta membahas rencana tindak lanjut pasca pelatihan.
Pelatihan dapat terselenggara atas kerjasama SPKPH dengan Lembaga Dayak Panarung (LDP), CU Betang Asi, AMAN Kalteng, Dinas Perkebunan propinsi Kalteng dan Dinas Pertanian/ Perkebunan kabupaten Gunung Mas.
Namun, tidak kurang dari 25 peserta yang mengikuti pelatihan beruntung, karena sebagai narasumber langsung dari PT. Bridgestone Kalimantan Plantation (PT. BSKP) Kalimantan Selatan. Alasan dari panitia mengundang Bridgestone adalah karena ingin belajar langsung dari praktisi lapangan yang mengenal dan ahli di bidang perkaretan.
Rombongan BSKP tiba pada pukul Rabu (11/5) malam di Sepang Kota, setelah menempuh perjalanan pagi hari berangkat dari Banjarbaru Kalsel. Sebagai ketua rombongan di pimpin oleh Suryani, SP dan didampingi Adi Priyo Santo, Samsudin Toha dan Syamsudin Noor.
Suryani lebih akrab dipanggil Pak Yani panggilan akrabnya adalah kepala Field Administration di BSKP. Sedangkan Santo kepala divisi penyadapan. Di bidang okulasi, maka Toha di ajak oleh Suryani mempraktekkan cara okulasi yang tepat. Rombongan tiba dengan menggunakan mobil strada yang dikemudikan oleh Syamsudin Noor yang biasa dipanggil Udin.
Acara berlangsung secara dinamis. Ini terlihat dari pertanyaan yang bertubi-tubi disampaikan para peserta kepada nara sumber, baik dari Bridgestone, dinas Perkebunan propinsi Kalteng maupun dinas pertanian dan perkebunan kabupaten Gunung Mas.
Kepala Dinas perkebunan Kalteng membuka kegiatan ini secara resmi. Arnilus, mewakili kepala dinas mengharapkan kegiatan ini dapat bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan petani karet. Di tempat yang sama, Simson, SP, mewakili kepala dinas pertanian dan perkebunan Gunung Mas turut menyampaikan materi mengenai kebijakan dan program yang akan dilakukan di tahun 2011/ 2012 di wilayah kabupaten Gunung Mas untuk membantu petani karet.
Dalam rencana tindak lanjut tahun 2011/ 2012, petani yang tergabung di SPKPH akan melakukan pembibitan secara okulasi di masing-masing kelompok tani, namun terlebih dahulu akan membeli bibit dari PT. BSKP agar mendapatkan mutu bibit karet yang bagus dan terjamin.
Keterangan foto: penulis (berbaju coklat) foto bersama peserta pelatihan
Sumber berita dan foto: http://cubetangasi.comSenin, 23 Mei 2011
Petani Karet Didorong Lakukan Tumpang Sari

Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kalteng Erman P Ranan melalui Kepala Bidang Perlindungan Perkebunan Listy Krispurwanti, baru-baru ini mengatakan, menjelang tanaman karet menghasilkan, masyarakat diinbau melakukan inovasi dengan menanam tanaman jarak yang produktif. Ini dilakukan supaya dapat memperoleh keuntunan tambahan dan terpeliharanya kebun karet tersebut.
“Disamping tetap menanam dan merawat tanaman karet, petani dapat melakukan tumpang sari yang hasilnya dapat dinikmati dalam waktu tidak terlalu lama, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” katanya.
Menurut Listy, melalui kegiatan tumpang sari ini diharapkan dapat membantu warga sendiri maupun membantu petani dalam memenuhi kebutuhan hidup, terutama menyakut pangan menjelang tanaman karetnya menghasilkan dan bisa dipanen.
Mengingat karet merupakan jenis tanaman tua dan baru bisa menghasilkan setelah usia diatas lima tahun, diperlukan tanaman muda. “Jika bisa menanam komoditi yang bisa dipanen dalam waktu jangka pendek antara tiga bulan hingga enam bulan, ini bisa dijadikan penyangga hidup menyelang tanaman utama atau karet menghasilkan.” Kata listy.
Sumber : Tabengan, Rabu, 18 Mei 2011.Hal : 15
Sumber gambar: http://sman2prabumulih.files.wordpress.comKamis, 19 Mei 2011
Waspada 4 Penyakit Penting Tanaman Karet
Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kalimantan Tengah Erman P Ranan melalui Kepala Bidang Perindustrian Perkebunan Listy Krispurwatimengharapkan petani karet mewaspadai penyakit yang memungkinkan terjadi pada tanaman komoditi ungulan Kalteng ini.
Menurut Listy, terdapat 4 (empat) jenis penyakit penting pada tanaman karet meliputi, penyakit akar, penyakit bidang sadap, penyakit cabang/batang dan penyakit daun.
Jenis-jenis penyakit penting dalam tanaman karet ini telah disampaikan dan disosialisasikan kepada peserta yang mengikuti Pelatihan pengendalian Organisasi Penggangu Tumbuhan (OPT) Pada Tanaman Karet dan mitigasi Dampak Kekeringan Pada Areal Perkebunan yang berlangsung di Palangka Raya, baru – baru ini.
Dijelaskan, penyakit akar berupa serangan pathogen menyebabkan tanaman karet menjadi busuk dan umumnya pada permukaan akar ditumbuhi rizomorpha jamur. Gejala yang tampak, pada daun berubah menjadi layu, berwarna kusam, dan akhirnya mongering.
Kemudian, penyakit bidang sadap jamur akar merah memiliki kesamaan dengan penyakit akar. Namun yang membedakan, jamur ini diketahui menyerang pohon-pohon yang telah disadap yang memiliki umur cukup tua, karena jamur ini jarang terjadi pada tanaman karet masih muda.
Sedangkan penyakit bidang sadap, gejala penyakit kulit bidang sadap yang mudah terinfeksi p palmivora, akibat luka bakas sadapan , tepatnya diatas alur sadap. Pada tingkat awal, penyakit ini ditandai dengan adanya garis-garis vertikal berwarna hitam dan mudah diketahui bagi tenaga yang telah terlatih.
Penyakit selanjutnya, batang atau cabang. Penyakit ini bisa ditemukan pada percabangan atau bagian bawah percabangan ranting. Serangan ini ditandai dengan benang-benang mirip dengan benang laba-laba pada bagian cabang yang diserang.
Sumber : Tabengan, Jumat, 13 Mei 2011. Halaman 15.
Sumber gambar: http://1.bp.blogspot.comRabu, 18 Mei 2011
Pelatihan Pembibitan SPKPH
Pelatihan berlangsung selama 3 hari dari tanggal 12-14 Mei 2011. Dari 3 hari pelatihan dibagi menjadi 1,5 hari teori, 1 hari praktek dan ½ hari evaluasi praktek lapangan serta membahas rencana tindak lanjut pasca pelatihan.
Pelatihan dapat terselenggara atas kerjasama SPKPH dengan Lembaga Dayak Panarung (LDP), CU Betang Asi, AMAN Kalteng, Dinas Perkebunan propinsi Kalteng dan Dinas Pertanian/ Perkebunan kabupaten Gunung Mas.
Namun, tidak kurang dari 25 peserta yang mengikuti pelatihan beruntung, karena sebagai narasumber langsung dari PT. Bridgestone Kalimantan Plantation (PT. BSKP) Kalimantan Selatan. Alasan dari panitia mengundang Bridgestone adalah karena ingin belajar langsung dari praktisi lapangan yang mengenal dan ahli di bidang perkaretan.
Rombongan BSKP tiba pada pukul Rabu (11/5) malam di Sepang Kota, setelah menempuh perjalanan pagi hari berangkat dari Banjarbaru Kalsel. Sebagai ketua rombongan di pimpin oleh Suryani, SP dan didampingi Adi Priyo Santo, Samsudin Toha dan Syamsudin Noor.
Suryani lebih akrab dipanggil Pak Yani panggilan akrabnya adalah kepala Field Administration di BSKP. Sedangkan Santo kepala divisi penyadapan. Di bidang okulasi, maka Toha di ajak oleh Suryani mempraktekkan cara okulasi yang tepat. Rombongan tiba dengan menggunakan mobil strada yang dikemudikan oleh Syamsudin Noor yang biasa dipanggil Udin.
Acara berlangsung secara dinamis. Ini terlihat dari pertanyaan yang bertubi-tubi disampaikan para peserta kepada nara sumber, baik dari Bridgestone, dinas Perkebunan propinsi Kalteng maupun dinas pertanian dan perkebunan kabupaten Gunung Mas.
Kepala Dinas perkebunan Kalteng membuka kegiatan ini secara resmi. Arnilus, mewakili kepala dinas mengharapkan kegiatan ini dapat bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan petani karet. Di tempat yang sama, Simson, SP, mewakili kepala dinas pertanian dan perkebunan Gunung Mas turut menyampaikan materi mengenai kebijakan dan program yang akan dilakukan di tahun 2011/ 2012 di wilayah kabupaten Gunung Mas untuk membantu petani karet.
Dalam rencana tindak lanjut tahun 2011/ 2012, petani yang tergabung di SPKPH akan melakukan pembibitan secara okulasi di masing-masing kelompok tani, namun terlebih dahulu akan membeli bibit dari PT. BSKP agar mendapatkan mutu bibit karet yang bagus dan terjamin.Selasa, 22 Maret 2011
HARGA KARET DI BARUT MULAI MEMBAIK
BARITO UTARA--BN: Harga karet di Kabupaten Barito Utara (Barut), Kalimantan Tengah (Kalteng) dalam sepekan terakhir mulai membaik. Saat ini, harga karet bervariasi mulai dari Rp10 ribu per kilogram (kg) hingga Rp15 ribu per kg, tergantung kualitas.“Yang sebelumnya hanya Rp7.000 per kg sejak minggu ini sudah Rp15 ribu per kg. Begitu pula yang tadinya Rp3.000 per kg membaik hingga Rp10 ribu per kg,” kata Rahmadi, Kabid Perkebunan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Barut, kepada Borneonews, kemarin.
Menurutnya, sentra produksi karet di Barut hampir tersebar di enam kecamatan. Namun, yang memiliki hasil produksi terbanyak ada di Kecamatan Lahei, Gunung Timang, Montallat dan Teweh Tengah. Dengan desa terfavorit Kandui dan Lemo.
Sementara itu, harga karet di Kabupaten Barito Selatan (Barsel) masih merosot. Harga getah karet yang sebelumnya berkisar Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per kg, kini turun drastis hingga Rp5.000-Rp6.000 per kg.
“Saya terkejut dan hampir tak percaya, karena beberapa minggu lalu saya menjual di tingkat pengumpul dihargai Rp5.000 per kg,” keluh Canto, petani karet di Desa Bundar Km 6, kemarin.
Canto mengaku, hanya mendapatkan uang Rp350 ribu untuk hasil menyadap pohon karet selama sepekan. Padahal sebelumnya, ia bisa membawa pulang uang Rp1,26 juta untuk getah seberat 70 kg.
Keterkejutan serupa juga disampaikan Happi Agustinus, buruh sadap getah di Desa Tabakanilan, Kecamatan Gunung Bintang Awai (GBA). Turunnya harga karet yang sangat dratis menyebabkan penghasilannya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Sebagai Petani karet getah, Happi mendapat imbalan satu pertiga. Dua pertiga menjadi bagian pemilik kebun. (ED/BI/B-4)
Sumber: http://www.borneonews.co.id
Sumber foto: http://1.bp.blogspot.comRabu, 09 Februari 2011
HARGA KARET TEMBUS Rp 15 RIBU/KG FAKTOR CUACA MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS
TAMIANG LAYANG- Harga Komoditi karet di Kabupaten Bartim mengalami kenaikan cukup tinggi. Sebelumnya di pasaran harga per kilogramnya hanya berkisar Rp 11 Ribu hinga 12 Ribu, kini meningkat menjadi 13 Ribu hingga 15 Ribu per Kg. Hal ini tentu sangat mengembirakan para petani karet dan masyarakat Bartim yang memang di dominasi oleh mata pencaharian tersebut, baik dalam skala kecil maupun besar.
Salah seorang petani karet yang biasa di pangil Ijal mengatakan, harga karet yang semula turun, kini mengalami teurs kenaikan. Hal tersebut bukan karena menipisnya stok karet di pasaran, namun karena harga dipasaran sedang mangalami kenaikan berkala.
“Biasanya saya dengan dua alternative yaitu secara mingguan, dimana dijual kepada pembeli lokal, atau dengan mendatangi langsung ke agennya”, ungkapnya ketika ditemui Kalteng Pos di Tamiang Layang, Selasa (8/2) Siang.
Menurut dia, harga mingguan paling tinggi hanya tembus hingga 13 ribu saja per kg nya. Berbeda dengan penjualan secara bulanan. Karet biasanya sudah terkumpul dan dijual langsung kepada pembeli karet yang mengunakan truk.
Dalam hal ini harga tertinggi dapat dicapai dengan harga 15 ribu per kg nya. Dia menambahkan hal terpenting dalam mengumpulkan karet adalah factor cuaca. “Kalau cuacanya tidak hujan dalam satu minggu saya bisa mengumpulkan karet hingga 40 kg, namun apabila cuaca buruk dan selalu hujan, maka hanya mampu 20 kg saja”’ ucapnya.
Pria kelahiran Ampah ini menambahkan, cuaca hujan merupakan factor yang paling ditakuti para petani karet. Selain hasil yang berkurang karena intensitas pekerjaan pun berkurang. Pasalnya apabila cuaca cerah tentunya dapat bekerja hinga hasil yang maksimal, namun apabila cuaca sedang tidak bersahabat, dalam satu minggu bisa saja tidak bekerja ke ladang karet.
Dia juga mengharapkan, agar komoditi karet dapat bertahan seperti sekarang ini, bahkan diharapkan lebih mengalami lonjakan lagi, dan tentunya dengan cuaca yang baik tanpa adanya curah hujanyang tinggi.
Sumber : Kalteng Pos. Rabu, 9 Februari 2011. Halaman 26
Sumber foto: blogs.ft.com
